Aku senang.walaupun ini semua terasa hambar.tapi aku senang bisa duduk di taman ini kembali pada hari ini.meski hari ini taman ini terasa penuh sesak oleh puluhan orang yang datang melihatku.
Dia masih duduk disitu.ditempat yang sama seperti kemarin.ataupun 4 tahun yang lalu.masih di kursi roda yang sama.sama klasiknya seperti sepeda tua.memandang luas ke taman belakang.tempat dimana ia menghabiskan 4 tahun terakhirnya.
Hari ini taman ramai.tidak seperti biasanya.sepi dan rapuh.hari ini semua berdatangan.membawa bunga.kue.ataupun hanya sekedar senyuman.hari ini kursi rodanya baru.baru diganti oleh perawat.setelah 4 tahun kursi roda yang lama menemaninya duduk bersandar di taman.
Dia memancarkan senyuman paling manisnya.walaupun ia tau tak semua orang dapat dikelabui oleh senyum manisnya.ia tersenyum saat datang kerabat lamanya.yang baru hari ini menjenguknya.ia tersenyum saat datang keluarganya.yang telah empat kali datang melihatnya selama empat tahun belakangan ini.
Mereka menghampirinya.dengan gaun mahal buatan designer terkenal.dan dandanan super mahal.memeluknya hambar.dan berkata “selamat ulang tahun ya..semoga lekas sembuh”.dia hanya membalas dengan senyum manis palsunya dan berkata “terima kasih”.
Dia tau ini semua hanya rekayasa.pura pura belaka.tapi toh dia tampak menikmatinya.mungkin karna 4 tahun terakhir ini tak pernah ada orang seramai ini berbondong bondong mendatanginya.mungkin pikirnya ini pemandangan yang menarik.
Di sudut taman terlihat banyak bungkusan kado yang tergeletak di atas meja.ia memandangi tumpukan itu sejenak.lalu tersenyum masam.
Kado.bertahun tahun kalian memberiku kado.dari barang kecil sampai barang berharga.dari boneka sampai berlian.tak ada satupun yang dapat menghapus tetesan air mata ini tiap malamnya.kado hanyalah kotak pemanis yang jika dibuka tak ada artinya.indah dilihat tapi tak akan pernah sanggup dirasa.tak tahukah kalian apa yang kuminta selama ini ?
Kerumunan orang itu bergerumbul untuk menyalakan lilin di atas kue besar di atas meja.lalu salah satu diantara mereka menggiring kursi rodanya kedepan agar ia bisa meniup lilinnya.dalam hitungan ke tiga dia meniup lilinnya.dan gemuruh suara ramai terdengar setelahnya.pesta telah dimulai.masing masing mulai terlihat sibuk dengan obrolan klasik orang dewasa.duit.bisnis.sex.duit lagi.bisnis lagi.sex lagi.semua terdengar sama.
Ia tersandar lagi di kursi rodanya yang baru.melihat keramaian yang masih terasa lucu baginya.melihat orang orang yang berebut makanan dan minuman.lalu kembali lagi mengobrol dengan sesamanya.ia sesekali melempar senyum pada siapa saja yang dari jauh menawarkan makanan untuknya.ia tak merasa lapar untuk memakan hidangan yang disajikan.juga tak merasa haus untuk meminum minuman yang disajikan.ia hanya melihat dari jauh.memandang dengan senyum palsunya.
Seseorang diantara mereka mendatanginya sambil memegang kursi rodanya dan berkata “kau mau kuantarkan untuk mengambil makanan ? daritadi kuperhatikan kau sama sekali belum makan”
Dia tersenyum.lalu menjawab “aku belum lapar.terima kasih”.orang itu diam sejenak sambil mencuri curi pandang ke arah kaki yang tergeletak di atas kursi roda itu.lalu bertanya “bagaimana keadaanmu ?”.dia menjawab datar “baik”.orang itu kemudian bertanya lagi “kakimu ? sudah bisa ja..”.belum selesai pertanyaan orang tersebut.dia sudah menjawab “sudahlah.tidak usah basa basi mengkhawatirkanku.aku baik baik saja.”.orang itu diam.lalu meninggalkan kursi roda yang tadi digenggamnya.ia pergi meninggalkannya.
Aku tidak butuh basa basi kalian.kalian datang kemari saja sudah cukup membuatku muak.apalagi ditambah dengan embel embel hadiah pemanis.rasanya ingin muntah.tak usah kalian berpura pura memperhatikan dan mengkhawatirkanku.
Hari sudah sore.gerumulan tamu pun terlihat berkurang.semakin lama semakin sedikit.hingga akhirnya benar benar habis.
Ia terlihat menarik napas yang dalam.lalu melepasnya lagi dengan raut muka lega.ia senang pesta kecil tadi telah berakhir.ia senang rumah rehabilitasi ini sepi kembali.hanya ada beberapa kamar dan sebuah taman yang rindang.ia senang tak lagi harus memasang senyum palsu.
Ia mendorong dorong sendiri kursi rodanya berkeliling taman.rutinitas harian yang seharusnya sudah ia lakukan 2 jam yang lalu.tapi tak bisa karna padatnya tamu yang datang.ia memandang keseluruhan taman sambil memegang kursi rodanya.sampah berserakan.sisa dari pesta yang tak lebih dari sekedar lakon sandiwara.ia melihat tumpukan sampah yang ada di dekatnya.sebuah kotak kado untuknya.tertulis disitu dari ibu.
Bahkan aku tau ini bukan tulisan tanganmu.ini tulisan ersa.asisten judesmu itu.dari luarnya saja sudah ditulis orang lain apalagi isinya.paling paling kau hanya menyuruh asistenmu untuk membelikan sesuatu untukku tanpa kau sendiri melihatnya.sama seperti tahun yang lalu.kau memberiku sebuah gaun hitam mahal.anggun memang.tapi bahkan kau pun tak ingat ukuran badanku.gaun itu 3 kali lebih besar dari ukuran normal badanku.aku tak tau siapa yang bodoh untuk urusan ini.kau atau asisten judesmu itu.lagipula kadomu itu hanya mengejekku.untuk apa gaun dipakai di rumah rehabilitasi.benar benar bodoh.
Ia membuka bingkisan kotak itu.dirobeknya dengan keras.lalu dibuka kotak itu.sebuah buku.bersampul putih susu.dengan judul besar TIPS MENDAPATKAN JODOH YANG BAIK.ia tersenyum.lama memandangi cover buku itu.seakan akan membaca berulang ulang judul buku itu.lalu ia tertawa.tertawa lepas.
Kali ini bukan lagi bodoh.tapi benar benar idiot.dia menghadiahiku sebuah buku TIPS MENDAPATKAN JODOH YANG BAIK.rasanya ingin tertawa sampai mati mulutku ini.luar biasa tololnya ibuku.atau paling tidak asistennya.ia menghadiahi anaknya yang sudah cacat ini sebuah buku mencari jodoh.mau cari dimana jodohku ?.di kolong meja ?.di belakang pohon ?.dia tak pernah sadar bahwa anaknya kini hidup di sebuah pondok kecil bersama orang orang cacat lainnya.jangankan menikah.niat untuk mendekati seorang pria saja aku tak ada.hati ini sudah terlanjur mati rasa.bersamaan dengan kakiku ini.lagipula mana ada pria yang berniat menikahiku jika kondisiku begini.
Ia melempar buku itu ke tong sampah yang ada di dekatnya.lalu ia mendekati tumpukan kado yang tergeletak di atas meja.ia melihatnya perlahan lahan.tanpa menyentuhnya.seakan menyortir mana yang harus dibuka dan mana yang tidak.yang padahal ujung ujungnya semuanya akan berada di tong sampah.sama seperti tahun lalu.dan tahun tahun sebelumnya.
Matanya berhenti pada satu kotak berwarna merah tua.lama ia memandangnya.lalu mengambil kotak itu perlahan.ia melihat tulisan di kotak itu.untuk raya,dari ressa,maaf tak bisa datang.
Dibukanya kotak itu perlahan.seakan ia takut isi kotak itu akan lompat kehadapannya.
Foto ? untuk apa kau beri aku foto ? agar aku bisa mengingatmu kembali ?.sudah percuma ressa.sudah percuma.4 tahun yang lalu aku berjalan telanjang kaki menuju rumahmu hanya untuk sekedar meminta satu kalimat dari mulutmu.tapi tak kau ucap kalimat itu.dan selama 4 tahun pula aku mencoba untuk melupakanmu.dan disaat aku sudah berhasil melupakanmu.kau memberiku sebuah kado.ingin rasanya aku menonjok batang hidungmu saat ini juga sampai berdarah.betapa lucunya hari ini.semua datang kembali.menawarkan suatu harapan palsu dengan lakon dan cerita baru.
Dibuangnya juga kotak merah tua itu.lalu dijalankannya kembali kursi roda itu dengan laju yang pelan.sambil memandangi taman yang kini penuh sampah.
Aku bisa hidup sendiri.sudah 4 tahun kujalani seperti ini.tanpa teman.tanpa saudara.tanpa siapapun.rasanya bukan hanya kakiku saja yang mati rasa.tapi juga hati ini.juga otak ini.kalau ada orang yang bertanya dimana mereka ?.jawabnya adalah mereka ada.mereka ada diluar dari kehidupanku.mereka datang hanya untuk memberi sebingkis pemanis buatan setiap tahunnya.di tanggal yang sama.di hari yang sama.hari ulang tahunku.4 tahun berlalu di rumah rehabilitasi penyembuhan orang cacat semenjak kecelakaan yang membuatku kehilangan kedua kakiku.membuatku keluar dari jalur kehidupanku yang dulu.tapi aku tau.aku tau bahwa ini adalah jalan hidupku.
Sabtu,17 april 2010
Pk.02.42 waktu jakarta




