Rabu, 19 Mei 2010

kursi roda



Aku senang.walaupun ini semua terasa hambar.tapi aku senang bisa duduk di taman ini kembali pada hari ini.meski hari ini taman ini terasa penuh sesak oleh puluhan orang yang datang melihatku.

Dia masih duduk disitu.ditempat yang sama seperti kemarin.ataupun 4 tahun yang lalu.masih di kursi roda yang sama.sama klasiknya seperti sepeda tua.memandang luas ke taman belakang.tempat dimana ia menghabiskan 4 tahun terakhirnya.

Hari ini taman ramai.tidak seperti biasanya.sepi dan rapuh.hari ini semua berdatangan.membawa bunga.kue.ataupun hanya sekedar senyuman.hari ini kursi rodanya baru.baru diganti oleh perawat.setelah 4 tahun kursi roda yang lama menemaninya duduk bersandar di taman.

Dia memancarkan senyuman paling manisnya.walaupun ia tau tak semua orang dapat dikelabui oleh senyum manisnya.ia tersenyum saat datang kerabat lamanya.yang baru hari ini menjenguknya.ia tersenyum saat datang keluarganya.yang telah empat kali datang melihatnya selama empat tahun belakangan ini.

Mereka menghampirinya.dengan gaun mahal buatan designer terkenal.dan dandanan super mahal.memeluknya hambar.dan berkata “selamat ulang tahun ya..semoga lekas sembuh”.dia hanya membalas dengan senyum manis palsunya dan berkata “terima kasih”.

Dia tau ini semua hanya rekayasa.pura pura belaka.tapi toh dia tampak menikmatinya.mungkin karna 4 tahun terakhir ini tak pernah ada orang seramai ini berbondong bondong mendatanginya.mungkin pikirnya ini pemandangan yang menarik.

Di sudut taman terlihat banyak bungkusan kado yang tergeletak di atas meja.ia memandangi tumpukan itu sejenak.lalu tersenyum masam.

Kado.bertahun tahun kalian memberiku kado.dari barang kecil sampai barang berharga.dari boneka sampai berlian.tak ada satupun yang dapat menghapus tetesan air mata ini tiap malamnya.kado hanyalah kotak pemanis yang jika dibuka tak ada artinya.indah dilihat tapi tak akan pernah sanggup dirasa.tak tahukah kalian apa yang kuminta selama ini ?

Kerumunan orang itu bergerumbul untuk menyalakan lilin di atas kue besar di atas meja.lalu salah satu diantara mereka menggiring kursi rodanya kedepan agar ia bisa meniup lilinnya.dalam hitungan ke tiga dia meniup lilinnya.dan gemuruh suara ramai terdengar setelahnya.pesta telah dimulai.masing masing mulai terlihat sibuk dengan obrolan klasik orang dewasa.duit.bisnis.sex.duit lagi.bisnis lagi.sex lagi.semua terdengar sama.

Ia tersandar lagi di kursi rodanya yang baru.melihat keramaian yang masih terasa lucu baginya.melihat orang orang yang berebut makanan dan minuman.lalu kembali lagi mengobrol dengan sesamanya.ia sesekali melempar senyum pada siapa saja yang dari jauh menawarkan makanan untuknya.ia tak merasa lapar untuk memakan hidangan yang disajikan.juga tak merasa haus untuk meminum minuman yang disajikan.ia hanya melihat dari jauh.memandang dengan senyum palsunya.

Seseorang diantara mereka mendatanginya sambil memegang kursi rodanya dan berkata “kau mau kuantarkan untuk mengambil makanan ? daritadi kuperhatikan kau sama sekali belum makan”

Dia tersenyum.lalu menjawab “aku belum lapar.terima kasih”.orang itu diam sejenak sambil mencuri curi pandang ke arah kaki yang tergeletak di atas kursi roda itu.lalu bertanya “bagaimana keadaanmu ?”.dia menjawab datar “baik”.orang itu kemudian bertanya lagi “kakimu ? sudah bisa ja..”.belum selesai pertanyaan orang tersebut.dia sudah menjawab “sudahlah.tidak usah basa basi mengkhawatirkanku.aku baik baik saja.”.orang itu diam.lalu meninggalkan kursi roda yang tadi digenggamnya.ia pergi meninggalkannya.

Aku tidak butuh basa basi kalian.kalian datang kemari saja sudah cukup membuatku muak.apalagi ditambah dengan embel embel hadiah pemanis.rasanya ingin muntah.tak usah kalian berpura pura memperhatikan dan mengkhawatirkanku.

Hari sudah sore.gerumulan tamu pun terlihat berkurang.semakin lama semakin sedikit.hingga akhirnya benar benar habis.

Ia terlihat menarik napas yang dalam.lalu melepasnya lagi dengan raut muka lega.ia senang pesta kecil tadi telah berakhir.ia senang rumah rehabilitasi ini sepi kembali.hanya ada beberapa kamar dan sebuah taman yang rindang.ia senang tak lagi harus memasang senyum palsu.

Ia mendorong dorong sendiri kursi rodanya berkeliling taman.rutinitas harian yang seharusnya sudah ia lakukan 2 jam yang lalu.tapi tak bisa karna padatnya tamu yang datang.ia memandang keseluruhan taman sambil memegang kursi rodanya.sampah berserakan.sisa dari pesta yang tak lebih dari sekedar lakon sandiwara.ia melihat tumpukan sampah yang ada di dekatnya.sebuah kotak kado untuknya.tertulis disitu dari ibu.

Bahkan aku tau ini bukan tulisan tanganmu.ini tulisan ersa.asisten judesmu itu.dari luarnya saja sudah ditulis orang lain apalagi isinya.paling paling kau hanya menyuruh asistenmu untuk membelikan sesuatu untukku tanpa kau sendiri melihatnya.sama seperti tahun yang lalu.kau memberiku sebuah gaun hitam mahal.anggun memang.tapi bahkan kau pun tak ingat ukuran badanku.gaun itu 3 kali lebih besar dari ukuran normal badanku.aku tak tau siapa yang bodoh untuk urusan ini.kau atau asisten judesmu itu.lagipula kadomu itu hanya mengejekku.untuk apa gaun dipakai di rumah rehabilitasi.benar benar bodoh.

Ia membuka bingkisan kotak itu.dirobeknya dengan keras.lalu dibuka kotak itu.sebuah buku.bersampul putih susu.dengan judul besar TIPS MENDAPATKAN JODOH YANG BAIK.ia tersenyum.lama memandangi cover buku itu.seakan akan membaca berulang ulang judul buku itu.lalu ia tertawa.tertawa lepas.

Kali ini bukan lagi bodoh.tapi benar benar idiot.dia menghadiahiku sebuah buku TIPS MENDAPATKAN JODOH YANG BAIK.rasanya ingin tertawa sampai mati mulutku ini.luar biasa tololnya ibuku.atau paling tidak asistennya.ia menghadiahi anaknya yang sudah cacat ini sebuah buku mencari jodoh.mau cari dimana jodohku ?.di kolong meja ?.di belakang pohon ?.dia tak pernah sadar bahwa anaknya kini hidup di sebuah pondok kecil bersama orang orang cacat lainnya.jangankan menikah.niat untuk mendekati seorang pria saja aku tak ada.hati ini sudah terlanjur mati rasa.bersamaan dengan kakiku ini.lagipula mana ada pria yang berniat menikahiku jika kondisiku begini.

Ia melempar buku itu ke tong sampah yang ada di dekatnya.lalu ia mendekati tumpukan kado yang tergeletak di atas meja.ia melihatnya perlahan lahan.tanpa menyentuhnya.seakan menyortir mana yang harus dibuka dan mana yang tidak.yang padahal ujung ujungnya semuanya akan berada di tong sampah.sama seperti tahun lalu.dan tahun tahun sebelumnya.

Matanya berhenti pada satu kotak berwarna merah tua.lama ia memandangnya.lalu mengambil kotak itu perlahan.ia melihat tulisan di kotak itu.untuk raya,dari ressa,maaf tak bisa datang.

Dibukanya kotak itu perlahan.seakan ia takut isi kotak itu akan lompat kehadapannya.

Foto ? untuk apa kau beri aku foto ? agar aku bisa mengingatmu kembali ?.sudah percuma ressa.sudah percuma.4 tahun yang lalu aku berjalan telanjang kaki menuju rumahmu hanya untuk sekedar meminta satu kalimat dari mulutmu.tapi tak kau ucap kalimat itu.dan selama 4 tahun pula aku mencoba untuk melupakanmu.dan disaat aku sudah berhasil melupakanmu.kau memberiku sebuah kado.ingin rasanya aku menonjok batang hidungmu saat ini juga sampai berdarah.betapa lucunya hari ini.semua datang kembali.menawarkan suatu harapan palsu dengan lakon dan cerita baru.

Dibuangnya juga kotak merah tua itu.lalu dijalankannya kembali kursi roda itu dengan laju yang pelan.sambil memandangi taman yang kini penuh sampah.

Aku bisa hidup sendiri.sudah 4 tahun kujalani seperti ini.tanpa teman.tanpa saudara.tanpa siapapun.rasanya bukan hanya kakiku saja yang mati rasa.tapi juga hati ini.juga otak ini.kalau ada orang yang bertanya dimana mereka ?.jawabnya adalah mereka ada.mereka ada diluar dari kehidupanku.mereka datang hanya untuk memberi sebingkis pemanis buatan setiap tahunnya.di tanggal yang sama.di hari yang sama.hari ulang tahunku.4 tahun berlalu di rumah rehabilitasi penyembuhan orang cacat semenjak kecelakaan yang membuatku kehilangan kedua kakiku.membuatku keluar dari jalur kehidupanku yang dulu.tapi aku tau.aku tau bahwa ini adalah jalan hidupku.


Sabtu,17 april 2010

Pk.02.42 waktu jakarta


Senin, 17 Mei 2010

jabatan paling atas




Malam ini hujan

Pintu tertutup rapat

Terkunci dengan gembok mahal


Ia datang

Membawa sedikit biskuit di tangan

dengan pakaian sedikit compang


lalu ia duduk

lesehan di lantai

selonjor alakadar


saya bangun

berjalan gontai

menghampirinya dengan santai


ia menawarkan biskuit berbau menyegat

lalu saya menyajikan wedang hangat


kami bersender di dinding kamar

sambil bersenandung lagu samar


kami menikmati sajian yang sederhana ini

kami menikmati malam ini


ia sama sekali tidak bicara

tidak ada suara


“terima kasih sudah bersedia menemani”


Akhirnya ia mengeluarkan suara


“sama sama”


Lalu ia menyeruput wedang hangatnya dengan lemah

Dan kembali bersender pada dinding yang sama lapuknya dengan dirinya


“aku letih menjadi tuhan”


Saya tertawa kecil tanpa menoleh

“aku pun letih menjadi manusia”


Ia memotek biscuit itu menjadi dua dan menawarkan setengahnya kepada saya


“ada baiknya kita mencoba untuk menukar takdir kita”


“maksudmu ?”


“aku jadi kau…kau jadi aku…”


Saya tertawa lagi

Kali ini lebih keras

“tentu saja aku tidak mau…”


Ia mengernyitkan alisnya sejenak

Lau bertanya

“kenapa begitu menurutmu ?”


“aku sudah cukup puas menjadi ciptaanMu…hanya akan menyusahkan saja bila aku menjadi tuhan”


Saya menuangkan kembali wedang hangat ke gelasnya yang telah kosong


“kau yakin tidak mau ?”

Ia bertanya lagi


Saya menerawang keatas

Lalu tersenyum kembali


“sangat yakin…”

“terima kasih sebelumnya telah berbaik hati menawarkan jabatanmu…”


Ia tersenyum kecut

Lalu mengeluarkan sebatang rokok dari kantong kumalnya

Lalu membakarnya


“aku sudah cukup puas dengan apa yang kau beri selama ini…terima kasih…”

“soal jabatanmu…..”

Saya tersenyum nakal

“aku sama sekali tidak tertarik…”

“oh mungkin kau bisa menawarkannya pada yang lain…”

Masih tetap tersenyum jahil


ia menggeleng lemah

“tidak”

“tidak yang lain”


Ia kembali terdiam

Memandangi dinding kamar yang penuh dengan lumut kotor


“baiklah kalau begitu”

“terima kasih banyak sudah mau menemaniku”


Ia menyeruput wedangnya untuk yang terakhir kalinya

Lalu berdiri


“perlu kuantar ?”


“tidak..terima kasih..aku masih cukup kuat untuk kembali..”


Lalu kami bersalaman

Dan ia pergi


Senin,15 februari 2010

Pk.22:47 waktu jakarta


selatan jakarta


Dinding ini hampir retak.tak sanggup menahan berat.sebentar lagi ia akan jatuh tersungkur.tak pelak menjadi debu.debu lantai yang kotor dan bau.


Kepala ini hampir penuh.sama halnya seperti dinding tadi.yang tak lama lagi kan retak dan meledak.setelah itu tercecer cecer.layaknya sampah yang dikerebungi lalat pasar.


Badan ini sudah pegal.tak kuat lagi membawa beban.bahkan hanya secuil kain pun.badan ini pun akan berakhir sama layaknya kepala yang sebentar lagi akan meledak.badan ini pun akan terpencar pencar.mental kesana kemari.penuh darah yang tak lagi merah.


Hati ini sudah bau bangkai.hitam dan berlendir layaknya ingus jahanam.hati ini sudah tak lagi bisa merasa.hati ini sudah tertutup asap.asap beracun yang hitam pekat.hati ini tak lagi bisa mencinta.mencinta seseorang yang dicinta.hati ini tak lagi hidup.hati ini sudah terlanjur koma.


Rumah ini tak lagi kuat.kayu kayunya telah rapuh dimakan rayap.atapnya pun tak bisa lagi menahan hujan.apalagi badai.tiang tiangnya telah jatuh dan terbelah dua.pintunya sudah tak lagi terbuka.pintu itu telah tertutup debu dan lumut.


Jiwa ini tak bisa lagi menunggu.menunggu orang tuk diajaknya masuk.masuk kedalam hatinya.yang sudah lama hangus.


Cinta ini sudah tak ingat.tak ingat bagaimana caranya.cara tuk memberi.dan menerima kasih sayang.


Rasa ini telah lama hilang.mungkin terbawa angin topan.atau hanya sekadar bermain ke selatan.


Kamis,02 oktober 2008 14.42 waktu jakarta.

Kamis, 13 Mei 2010

inisial diri


woles dibalik selow.
selow dibalik woles.
ya gitulah.

souvenir



Siapa ?
Wanita itu saya
Dan pria itu dia

Lalu pohon ?
Mungkin itu kehidupan
Kami hidup di atas pohon kehidupan
Dan kehidupan pula yang menyatukan kami untuk saat ini

Dan souvenir itu ?
Mungkin dia adalah souvenir
Yang dilempar tuhan kepada saya

Mengapa setengah telanjang ?
Manusia diciptakan telanjang
Kain adalah dusta yang melingkar pada badan manusia
Itulah mengapa kami tidak telanjang
Kami melingkarkan dusta di badan kami

Mengapa coklat muda ?
Kami bukan manusia suci
Juga bukan manusia kotor


Souvenir
Sabtu,09 Januari 2010
Pk.23.00 waktu jakarta

dia




Apa ?
Mungkin saja dia itu babi
Mungkin saja dia itu sapi
Bisa saja dia itu rusa
Dan bisa saja dia itu badak

Hanya tuhan yang tahu

Siapa ?
Dia tidak punya nama
Atau setidaknya belum

Dimana ?
Dia duduk manis tepat di atas televisi saya
Sambil mengamati tanpa banyak kata

Kapan ?
Dia ada ketika saya bangun
Dia ada ketika saya akan tidur

Dia ada ketika saya berangkat
Dan begitu juga saat saya pulang

Mengapa ?
Dia ada karna seseorang
Orang yang sudah ada sebelum dia ada

Bagaimana ?
Dia hanya duduk diam di setiap paginya
Dan begitu juga dengan malamnya



Dia
Sabtu,09 januari 2010
Pk.22.40 waktu jakarta