Senin, 17 Mei 2010

jabatan paling atas




Malam ini hujan

Pintu tertutup rapat

Terkunci dengan gembok mahal


Ia datang

Membawa sedikit biskuit di tangan

dengan pakaian sedikit compang


lalu ia duduk

lesehan di lantai

selonjor alakadar


saya bangun

berjalan gontai

menghampirinya dengan santai


ia menawarkan biskuit berbau menyegat

lalu saya menyajikan wedang hangat


kami bersender di dinding kamar

sambil bersenandung lagu samar


kami menikmati sajian yang sederhana ini

kami menikmati malam ini


ia sama sekali tidak bicara

tidak ada suara


“terima kasih sudah bersedia menemani”


Akhirnya ia mengeluarkan suara


“sama sama”


Lalu ia menyeruput wedang hangatnya dengan lemah

Dan kembali bersender pada dinding yang sama lapuknya dengan dirinya


“aku letih menjadi tuhan”


Saya tertawa kecil tanpa menoleh

“aku pun letih menjadi manusia”


Ia memotek biscuit itu menjadi dua dan menawarkan setengahnya kepada saya


“ada baiknya kita mencoba untuk menukar takdir kita”


“maksudmu ?”


“aku jadi kau…kau jadi aku…”


Saya tertawa lagi

Kali ini lebih keras

“tentu saja aku tidak mau…”


Ia mengernyitkan alisnya sejenak

Lau bertanya

“kenapa begitu menurutmu ?”


“aku sudah cukup puas menjadi ciptaanMu…hanya akan menyusahkan saja bila aku menjadi tuhan”


Saya menuangkan kembali wedang hangat ke gelasnya yang telah kosong


“kau yakin tidak mau ?”

Ia bertanya lagi


Saya menerawang keatas

Lalu tersenyum kembali


“sangat yakin…”

“terima kasih sebelumnya telah berbaik hati menawarkan jabatanmu…”


Ia tersenyum kecut

Lalu mengeluarkan sebatang rokok dari kantong kumalnya

Lalu membakarnya


“aku sudah cukup puas dengan apa yang kau beri selama ini…terima kasih…”

“soal jabatanmu…..”

Saya tersenyum nakal

“aku sama sekali tidak tertarik…”

“oh mungkin kau bisa menawarkannya pada yang lain…”

Masih tetap tersenyum jahil


ia menggeleng lemah

“tidak”

“tidak yang lain”


Ia kembali terdiam

Memandangi dinding kamar yang penuh dengan lumut kotor


“baiklah kalau begitu”

“terima kasih banyak sudah mau menemaniku”


Ia menyeruput wedangnya untuk yang terakhir kalinya

Lalu berdiri


“perlu kuantar ?”


“tidak..terima kasih..aku masih cukup kuat untuk kembali..”


Lalu kami bersalaman

Dan ia pergi


Senin,15 februari 2010

Pk.22:47 waktu jakarta


Tidak ada komentar:

Posting Komentar